Sunday, 19 May 2013

Sisi Lain si Tomboy

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.
 

         Saya suka berteman dengan siapa saja. Dan saya bisa akrab dengan berbagai macam type orang asal sudah klik dan kami akan berteman benar-benar tulus dari hati.  Dari banyak teman-teman saya itu, ada beberapa yang mempunyai kepribadian dan penampakan ‘istimewa’ kalau tidak boleh dibilang lain dari pada yang lainnya.

          Penampakan istimewa yang saya maksud salah satunya adalah  tomboy. Saat saya masih sekolah, kuliah, dan sekarang pun saya mempunyai teman dengan karakter seperti itu. Dan mereka sangat total dengan ketomboyannya. Hingga siapapun yang melihat wujud luar teman saya itu pasti akan ‘kecele’ karena menganggap dia Mas-Mas hehe.


          Siapapun, sesungguhnya setiap orang baik laki-laki atau perempuan mempunyai dua sisi di dalam dirinya, tinggal sisi mana yang lebih dominan. Tingkat maskulinitas dan feminitas tiap-tiap orang tidak bisa diukur dengan hanya melihat penampilan luarnya saja. Karena sifat-sifat yang tampak dari luar itu besar kemungkinan terbentuk oleh beberapa rangkaian peristiwa sebab akibat yang pernah mereka alami. Entah faktor lingkungan,  pengalaman masa lalu dan sebagainya. 

          Kembali ke topik tentang teman saya itu. Saya pun tetap menemukan sisi feminin di dalam dirinya. Meskipun dia menutupinya dengan penampilan dan gayanya yang super duper tomboy. 

          Teman kuliah saya, sebut saja namanya Kiki. Selama saya berteman dan dekat dengan dia belum pernah sekalipun saya melihat dia memakai rok, apalagi gaun. Wong celana saja tidak pernah memakai celana kain, selalu saja celana denim atau celana selutut yang ujungnya ‘sriwil-sriwil’ berumbai. Potongan rambutnya selalu cepak, selalu menggendong ransel kemana-mana, cara berjalan pun sangat jauh dari gemulai. Bahkan dia berjalan dengan gaya membungkuk, seakan ingin menyembunyikan dadanya di balik kemeja. Yang meyakinkan kalau dia tetap seorang perempuan, karena dia sholat tetap memakai rukuh, tidak pakai sarung. :))

          Awalnya saya agak heran, setiap saya berjalan dengan Kiki, pasti orang-orang yang berpapasan melihat dengan heran. Hehe baru sadar, orang-orang itu pasti mengernyitkan dahi, bahkan mengelus dada melihat saya. “Waduh… ini gadis berjilbab kok pacaran di kampus, di ruang terbuka pula.”  Mereka pasti kecele, dikira saya gandengan atau berangkulan dengan cowok hehe. Memang sih, saking akrabnya,  saya dan Kiki nggak sadar becanda sampai ‘memel’  eh apa ya bahasa indonesianya memel? 

          Dan banyak orang yang tidak tahu sisi lain dari Kiki. Dibalik ‘penampakannya’ yang maskulin, terlihat kuat dan tegar sebenarnya dia rapuh  (Ini hasil terawangan dan wawacanda :) )  Nah itulah yang membuat saya selalu siap menjadi tempat berbagi. Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian tahun saya tidak bertemu, saya kembali bertemu Kiki lewat dunia maya. Betapa gembiranya saya, saat mengetahui dia sudah menjelma menjadi wanita anggun berjilbab dan sudah menikah. Alhamdulillah... puji syukur pada Allah.

          Selain Kiki, ternyata saya juga dipertemukan lagi dengan teman yang berkarakter sama. Bahkan dia lebih total dengan ketomboyannya. Sebut saja namanya Ayuk. 

         Dia teman satu kantor. Umurnya jauh di bawah saya. Saat dia pertamakali masuk, hampir semua orang juga ‘kecele’ dengan penampilannya. Kami semua memanggilnya Mas. Hehe maaf ya Yuk, habis penampilannya benar-benar menipu. Rambut super cepak dengan menyisakan sedikit jambul di depan ala Tin-Tin, celana jeans dengan hem yang dimasukkan, plus sepatu hitam bertali dan tanpa memakai anting. Mau tahu tunggangannya? Motor cowok dengan tangki di depan. Siapa coba yang mengira kalau dia seorang perempuan. Apalagi kalau ditambah sebatang rokok ngepul yang terselip di bibirnya. 

          Dan seperti dejavu, Ayuk juga klik dengan saya. Kami akrab, karena sering saling bertukar cerita. Saya cerita tentang anak-anak dan lika-liku kehidupan saya sebagai ibu dan istri, dia bercerita banyak hal tentang hoby berpetualangnya, keluarga dan sebagainya. Dan kembali saya menarik benang merah. Bahwa tidak ada yang kebetulan dengan penampilannya. Perjalanan hidup, perlakuan orang tua, lingkungan, dan hati yang tergores luka ikut andil di dalamnya.   

      Dan saya seringkali protes, kalau di suatu tempat orang memanggilnya 'Mas', "Hmm... dia bukan Mas, tapi Mbak Bu/Pak".  Biasanya Ayuk cuma nyengir. 

          Hmm… dan kembali saya juga menemukan sisi lain dibalik sosok perkasanya. Perasaannya tetap halus, kalau ngomong dengan orang yang lebih tua juga pakai kromo inggil dan penuh unggah-ungguh. Dan yang paling bikin saya ngakak nggak habis-habis, ternyata di balik penampakannya yang seperti itu, dia sangat jijik saat tengah makan ada yang bercerita jorok atau melihat sesuatu yang menurutnya menjijikkan, ahh ternyata kemayu juga dia. Dan yang membuat hati saya tetap nyes, Ayuk tak melalaikan sholat dan yang pasti tetap pakai mukenah bukan pakai sarung .  

          Berharap, suatu hari nanti Ayuk juga akan menemukan titik balik, dimana dia akan berpenampilan sesuai kodratnya, sebagai wanita. Aamiin ^_^  Tidak dipungkiri, kadang sering terbersit rasa khawatir pada teman-teman perempuan berpenampilan tomboy seperti ini. Semoga ini hanya penampilan luar saja, tapi jiwa dan kodratnya tidaklah menyimpang.

Ibnu Abbas ra dia berkata: ‘Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat kaum laki-laki yang berpenampilan seperti wanita dan wanita yang berpenampilan seperti laki-laki (HR. Al-Bukhari)

   

         

       

- Satu, dengan Dua Sisi Berbeda

7 comments:

  1. Kalau tomboy tapi masih punya sisi feminin asyik ya vanda. Yang gak enak itu kalau tomboy tapi ternysts dia lesbi... temenku soalnya banyak yang justru begitu.. makanya seneng deh baca si tomboy udah nikah n pake jilbab

    ReplyDelete
    Replies
    1. iihh... ngeri ya mbak Ade kalau kecenderungannya begitu. iya saya juga senang banget saat tahu kabar itu :)

      Delete
  2. Setiap orang punya 2 sisi yang bertolah belakang. Yang kutahu, orang galak biasanya nangisan, orang lembut juga bisa kalap jika kelewat marah. Nah? kok malah melenceng...
    Sebenarnya aku juga tomboy banget dan sulit dikatakan perempuan ketika kuliah. Bukan karena style-nya begitu, tetapi karena tak punya baju remaja putri. karena semua terlanjut berkutat di celana dan kemeja, maka kalau punya kelebihan dana untuk baju ya di style yg sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang sudah punya rok atau gaun kan ? hehe

      Delete
  3. Wuih berasa dejavu, saya tomboy dan kemudian berjilbab :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... ikut senang ^_^

      Delete
  4. Salut sama kata katanya.. Ya tepat banget, jangan cuma nilai dari penampilan. Tp alasan dibalik semua itu..
    Semoga saya juga bisa kaya temen nya mba yg udh hijrah. Amin...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...