Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga dengan tema: perempuan inspiratifku.
Jika ada yang
bertanya siapa perempuan inspiratifmu? Pasti langsung akan
saya jawab’Mama’. Perempuan perantara
kehadiran saya di dunia ini. Perempuan biasa yang sangat istimewa buat saya.
Ibu yang Telaten dan Sabar
Kesabaran
dan ketelatenan Mama merawat 6 orang putra-putrinya sungguh selalu membuat
terharu bila mengenangnya. Mama merawat saya dan adik-adik dengan tangannya
sendiri. Saat itu mbak asisten hanya membantu meringankan pekerjaan rumah
tangga, seperti mencuci, menyetrika dan bersih-bersih rumah.
Mama selalu menyediakan makanan yang dimasak
sediri dari dapur sederhananya. Mulai sarapan, makan siang, makan malam hingga
camilan sore hari. Karena terjaganya menu masakan yang disajikan , sampai-sampai
saya baru mengenal makan mie instan saat ngekos waktu kuliah.
Mamalah
yang menemani kami sehabis maghrib mengaji dan belajar. Mama juga yang rela
menahan kantuk demi menemani Bapak atau adik laki-lakiku menonton pertandingan
sepak bola di televisi. Bahkan hampir setiap malam kami bergiliran membangunkan
Mama hanya sekedar minta diantar pipis. Belum pernah sekalipun saya mendapati
Mama mengeluh karena kerepotannya itu.
Guru yang disayangi
murid-murid kecilnya
Mama
bukan full time mom, beliau juga seorang guru di sebuah taman kanak-kanak.
Beliau begitu mencintai dunia anak-anak. Mama selalu berkata, “Meski hanya
surat Alfatihah dan doa-doa pendek, yang
bisa Mama bagikan, semoga bermanfaat sampai kelak mereka dewasa”
Dan
berjalan dengan Mama merupakan kebanggaan tersendiri. Mama layaknya selebritis,
Saat kami tengah berjalan beriringan ke pasar, atau sekadar jalan-jalan
menikmati pagi, tiba-tiba beberapa bocah mendekati sambil meraih tangan Mama
lalu menciumnya. Dan Mama pun akan membalas dengan pelukan hangat dan elusan di
kepala bocah-bocah itu.
Sungguh
pemandangan yang menakjubkan. Bahkan sampai bocah-bocah itu beranjak dewasa,
kebiasaan mencium tangan Mama jika mereka bertemu tak pernah terhapuskan.
Istri yang setia dan luar biasa
Mama
adalah seorang istri yang taat pada suami, sangat menjaga kehormatan diri dan
keluarga, juga begitu tulus ‘ngladeni’ Bapak. Yang paling saya kagumi, meskipun
kerepotan yang sangat luar biasa, Mama selalu tampil rapi di depan Bapak. Benar-benar menggantungkan ‘daster ’ baju
dinas di dapur saat menjelang Bapak pulang. Sampai-sampai kami anak-anaknya
setiap sore sehabis mandi, melihat Mama rapi berdandan, kami akan ramai
bertanya “Mama bade tindak teng pundi sih?” (1)
“Mah, nderek!” (2). Kami ramai membuntuti, dan biasanya Mama malah
menggoda dengan senyum-senyum pura-pura membuka pintu depan, lalu masuk lagi
duduk tenang sambil membaca buku. Hehe… maka kami serentak akan manyun.
Mama sangat mengistimewakan Bapak, meski tak mengurangi sedikitpun
mengistimewakan anak-anaknya. Bapak punya gelas dan piring istimewa. setiap pagi dan sore gelas itu dengan setia
menemani Bapak dengan aroma teh tubruk-nya. Bahkan, saat awal saya berumah tangga, Mama
selalu mengingatkan, “Buatkan suamimu minuman kesukaannya” atau “Kalau kamu
lapar, makanlah dulu tapi nanti saat suamimu pulang, kamu harus menemaninya
makan.” Dan selama saya menjadi puteri beliau, meskipun sambil menggendong atau
tengah malam sekalipun Bapak baru pulang, Mama selalu setia menemani Bapak di meja makan.
Begitulah
Mama, begitu menyanjung Bapak. Sungguh saya belajar pada beliau, meskipun saya
masih belum bisa sesempurna Mama. Saya masih sering lupa belum bebenah diri,
karena alasan repot ngurus anak. Kadang karena super capek dan ngantuk, saya sering lalai meninggalkan suami
makan sendiri.
Mama yang lembut hati dan
ringan berbagi.
Mama
selalu berbagi meski dalam kesempitan sekalipun. Mama tak pernah menolak
pengemis yang datang ke rumah, bahkan setiap hari Jum’at Mama selalu
menyediakan uang logam recehan. Mama selalu yakin, bahwa uang yang disedekahkan
akan kembali berkali-kali lipat. Allah akan mengembalikan kontan tak lama
berselang, atau akan membalasnya lewat kalian, saat Mama sudah tidak ada nanti,
begitu Mama menerangkan pada kami.
Dan
memang benar seringkali Allah begitu saja langsung menggantinya. Pemberian Mama
Rp. 5000,- sebagai ganti bubur yang tumpah pada seorang penjual bubur, langsung
diganti Rp. 500.000 lewat seorang saudara yang tiba-tiba berkunjung tanpa
disangka. Memberikan sekantung beras pada seorang janda dan anak yatimnya. Diganti
langsung dengan kiriman sekarung beras dari seorang saudara jauh yang lama tak bertandang.
Dan banyak lagi keajaiban-keajaiban rezeki yang lain.
Mama
sangat baik pada siapapun. Dan saya menuai kebaikan beliau. Saat saya mempunyai bayi kedua, selang beberapa bulan
setelah Mama berpulang di akhir tahun 2001, tak disangka mbak yang dulu membantu Mama yang sudah tidak
bertemu bertahun-tahun sejak dia menikah tiba-tiba datang sambil menangis.
Ternyata dia mimpi bertemu Mama, dan seperti dituntun dia bersilaturahmi ke rumah kami. Dia sangat
terkejut ketika tahu Mama sudah tiada.
Mbak
yang dulu pernah ngemong kami, kami memanggilnya Yu Us, dengan kerelaannya minta
ikut saya, membantu mengemong cucu-cucu Mama. Padahal saya di Surabaya, dan dia
dari “Bumijawa” desa di lereng gunung Slamet.
Bertahun-tahun Yu Us ikut saya. Saya menganggap orang tua,
bukan ART. Tak berselang lama, saat adik saya repot dengan kelahiran bayinya,
gantian Yu Us ikut adik saya di Jakarta. Begitulah, kami menuai kebaikan yang
Mama tanam dulu. Padahal saat itu mencari seorang ART yang benar-benar baik
sangatlah susah. Benar-benar Allah mengirimkan malaikat penolong pada kami.
Dan
yang selalu saya ingat nasehat Mama, “Jadilah
orang yang jujur, dimanapun dan apapun kondisinya. Sesungguhnya setelah
kesulitan ada kemudahan, Allah tak pernah memberi cobaan pada hambanya diluar
batas kemampuannya.”
Sampai
kapanpun saya akan selalu memegang nasehat itu. Semoga amal sholih beliau
selalu mengalirkan pahala tak putus, dan menempatkan beliau di tempat paling
mulia di sisi Allah. Dan jejak cinta sederhananya aka selalu menjadi inspirasi tak lekang waktu.
Mama,
Cinta
kasih yang kau punya
Adalah
cahaya yang berpendar menembus pekat
Adalah
butir embun di ujung daun yang melumatkan dahaga
Adalah
lagu yang meninabobokan
Maka
kepada Rabb Maha Cinta aku memohon
Cinta
kasihmu menjelmalah syurga
*1) Mama mau pergi kemana sih?*2) Ma, ikuutt....!

Silakan mampir juga di sini :)
jd inget ibuku..ibu memang perempuan yg luar biasa ya mb..
ReplyDeleteyuk ikutan giveawayku ya mb :)
Betul mb :) insyaAlloh, ancang2 ngubek2 blog mamito dulu;)
Delete