Tuesday, 22 March 2011

Catatan Kecil Saat Penerimaan Raport


 catatan yang sudah lama dibuat tapi baru saya bagi di sini.  Biasa jadi emak-emak sok sibuk yang kerja 24 jam sehari bahkan kalau bisa sehari bisa ada ekstra lebih 24 jam biar ada waktu leyeh-leyeh :))


Monggo  disimak  :)


Bu, bagaimana raport anak-anak, rangking berapa? “Pertanyaan serupa adalah sangat biasa dibicarakan ibu-ibu tetangga kiri kanan setiap kali musim penerimaan raport tiba. Dan setiap kali pula saya bingung menjawabnya, karena kebetulan raport anak-anak tidak mencantumkan rangking di bawahnya, sebagai parameter untuk menilai kemampuan siswa.

Sebenarnya siapa sih yang membutuhkan dan berkepentingan dengan predikat rangking itu, anak atau orang tua? Dan jawabannya, bahwa cenderung yang berkepentingan dengan rangking adalah orang tua. Begitu pentingkah rangking bagi orang tua? Rasanya begitu ya, dan umumnya memang seperti itu. Begitu egoisnya para orang tua, mereka menuntut anak-anak untuk membuat mereka bangga.

 Coba lihat, jika anak-anak mendapat rangking 1 dari bawah atau tidak masuk dalam 10 besar di kelasnya dapat dipastikan orang tua akan merasa malu. Sekedar rasa malu yang terbersit dalam hati itu masih sangat wajar dan lumayan. Lebih parah lagi kalau rasa malu itu diluapkan dalam bentuk kemarahan kepada anak. Dan kemarahan itu justru akan membuat anak semakin terpojok dan merasa tidak dihargai.

Merasa bangga jika anak mendapat rangking atas itu sangat wajar. Tapi para orang tua haruslah hati-hati dan waspada, kadang kebanggaan orang tua yang berlebihan justru membuat anak terbebani. Di sisi lain, bagi anak yang mendapat rangking di atas 10, di samping mereka mendapat marah, juga akan terbebani dengan perasaan malu dan minder. Tak seorang anak pun rela dibandingkan dengan anak yang lain, walaupun sistem rangking tidak diniatkan untuk itu, tapi pada kenyataannya sistim rangking telah membandingkan setiap anak dengan cara yang tidak  fair.

Ada pesan sangat indah yang saya dapat dari seorang ustadzah (guru) saat merima rapot kemarin, “Bapak dan Ibu, jika menerima raport anak, pertama lihatlah mana mata pelajaran yang mendapat nilai paling tinggi. Pujilah dan beri apresiasi atas pencapaian itu, ajak anak bersama melihat hasil raportnya, kemudian baru ulas bersama nilai yang dibawah standar. Diskusikan dengan anak, apa kesulitannya, dan motivasi mereka bahwa sebenarnya mereka bisa.”

Jujur saja , biasanya orang tua termasuk saya tentunya * ngaku nih si Emak :D, tanpa sadar akan langsung bereaksi pada hal-hal negatif yang dilakukan anak-anak. Begitu membuka raport dan terpampang nilai matematika atau sains 6 atau 7, sudah langsung panas hati. Tanpa peduli dengan nilai Agama, Bahasa Indonesia, Kesenian, IPS, atau Olah Raga yang 8 dan 9, langsung khotbah dan ceramah panjang lebar akan keluar.

Rasanya sangat tidak adil, jika kemampuan anak hanya dinilai sebatas pencapaian kognitif saja. Bukankah banyak aspek kecerdasan yang harus dilihat. Menurut DR Howard Gardner, kecerdasan adalah: kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan baru, dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu, atau memberi penghargaan pada budaya seseorang. Jadi kecerdasan tidak bisa hanya dinilai dari angka-angka di atas kertas. 

Foto diambil dari FB SDIT Nurul Fikri Sidoarjo
Cerita seorang teman yang tinggal di sebuah negara di benua tetangga. Di sana anak-anak berangkat sekolah dengan senyum mengembang, tak ada beban yang memberatkan punggung dan otak mereka. Mereka belajar dengan gembira, dan InsyaAllah karena kegembiraan itu justru nilai-nilai yang diajarkan lebih meresap. Dan di akhir semester mereka juga dengan gembira menerima penghargaan sesuai dengan prestasi mereka masing-masing. Di sana yang ada achievment , "Penghargaan" atas keistimewaan anak masing-masing. Karena rangking menurut mereka adalah abuse. :(

Bandingkan dengan anak-anak Indonesia, pulang sekolah dengan membawa setumpuk PR, ditambah sorenya masih les untuk semua mata pelajaran dan les ini itu yang seringkali hanya mengikuti jadwal yang sudah dibuat oleh orang tua. Belum lagi tuntutan harus rangking 1 atau minimal masuk 10 besar. “Hiks aku capek dan bosan Maaa...!”  Begitu mungkin jerit mereka dalam hati.

Alangkah indahnya, jika pada saat penerimaan raport, setiap anak mendapat hadiah, meskipun itu hanya sebuah buku, penghapus lucu warna-warni, atau pun selembar kertas berlogo bintang tertulis namanya dengan mencantumkan penghargaan atas prestasi yang dicapai di bidang mereka masing-masing. Predikatnya sebagai siswa penyabar, siswa yang ramah, siswa yang tertib, dan seterusnya rasanya lebih membanggakan bagi mereka.

  Pasti senyum mereka akan mengembang, dan mereka akan bercerita pada seisi dunia “Horee...! Aku mendapat hadiah dan jerih payahku  ternyata  dihargai.”  Setelah itu rasanya mereka jadi lebih semangat untuk menunjukkan kalau mereka BISA!

Belajar bisa dimana saja (foto diambil dari FB SDIT NF Sidoarjo

Memang tak bisa dipungkiri bahwa sistem pendidikan di negeri ini sudah terpola sedemikian rupa. Sehingga tidak menempatkan seorang anak didik (siswa) sebagai subyek pendidikan, yang mempunyai hak untuk dihargai prestasinya sekecil apapun itu. Terutama pada pendidikan di usia dasar, yang harus lebih bijak dan manusiawi, karena anak-anak bukan robot tak bernyawa yang tak mengenal rasa sakit hati dan kecewa. Mungkin ada beberapa sekolah yang tidak menerapkan sistem rangking ini, tapi tak bisa dipungkiri bahwa sekolah-sekolah itu berbiaya tidak murah. 

Meskipun sistem pendidikan kita adalah sebuah dilema, minimal kita, para orang tua bisa mengubah paradigma, bukan anak-anak yang “bodoh”, tapi orang tua yang  semakin tidak mau mengerti dan memahami bahwa setiap anak adalah unik, karena mereka cerdas di bidangnya masing-masing.


Selamat buat anak-anak semua yaaa... selamat menempuh semester baru , doa Ibu selalu menyertaimu :)

Sstt... kemarin waktu terima raport, saya  mendapat hadiah yang terbungkus kertas sampul rapi, Alhamdulillah....isinya sebotol besar sabun cuci piring hehehe . Penghargaan dengan predikat  Emak yang  rajin datang jika ada undangan pertemuan di sekolah  *_*



Sidoarjo, 16 Januari 2011

5 comments:

  1. Setuju mak...,sambil memandang raport anak sy membatin ;ibu bangga dengan hasil belajarmu nak,ibu tau bagaimana mumetnya mengerjakan soal,dengan atau tanpa ranking kamu sudah juara di hati ibu.
    tentu mereka tetap kita bimbing terus berprestasi:)

    ReplyDelete
  2. setuju... jgn terlalu mendewakan ranking, walopun mempunyai anak yg rankingnya bagus juga sesuatu yg membanggakan.. Dan lihat penilaian anak secara keseluruhan termasuk sikap2nya ketika di sklh :)

    ReplyDelete
  3. Makasih ya...Mak Sasa & Mak Ke2nai sudah berkunjung :) sebenarnya kasihan ya anak-anak kalo orang tua terlalu banyak menuntut ini itu. tapi tetep kan tugas emaknya memotivasi,mendampingi dan membimbing mereka sesuai dengan potensi mereka masing2 ^_^

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...