Saturday, 8 April 2017

Kejujuran yang (Seolah) Terlupakan

Semalam, ada yang mengulurkan dua lembar kertas, lembar jawaban ulangan harian matematika.

A : Ini Bu, ulanganku kemarin. *ekspresi wajah tetap ceria

I : Meraih kertas, dan melongo melihat ada angka 30 dan 50 besar dilingkari dengan spidol di pojok kanan atas. "Loh! ini beneran nilainya dapat segini?" *ekspresi kaget sudah muncul, tapi tetap menahan diri sekuatnya untuk tidak ceramah.

A : *tertawa terkekeh. Ya itu hasil ulangannya, yang kemarin aku cerita teman-temanku pada contekan di grup whatsap pas ulangan loh bu. Nggak papa Bu, kan nilai segitu hasil usahaku sendiri. (nadanya mak nyes layaknya orang tua nuturi anaknya*kayaknya kebalik nih posisi peran :D ) Malah enak, aku jadi tahu, sampai rumah aku buka hp, baca contekan teman-temanku, belajar lagi sambil baca-baca, oret-oret, sekarang aku sudah tahu kok jawaban yang salah-salah itu. *kalem sumringah.

I : Diam, hening. Tersenyum, lalu adegan teletubies berpelukan :D

Drama itu terjadi beberapa waktu lalu. Bohong kalau hati ngak merasa mecelos melihat kenyataan angaka 30 dan 50, di detik-detik awal pasti iyes! Wajar bangett, bukan  emak-emak kalau nggak begitu, iya kan? . Tapi, menjadi Ibu saya harus selalu belajar  selalu sadar untuk menjaga kewarasan. Jangan sampai ketidak warasan menguasai, bisa-bisa ceramah panjang kali lebar, berujung vonis bodoh, malas belajar dll meluncur dari mulut, tanpa mau mendengar alasan si bocah. Efeknya justru akan lebih bahaya di belakang hari.     
Buat saya, pendidikan bukan sekadar hasil akhir berupa nilai-nilai ujian dan UN, tapi proses terus-menerus membangun karakter , termasuk kejujujuran insyaAllah kalau nilai akan mengikuti seberapa keras doa dan ikhtiarnya :) 





No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...