Mengingat cerita seorang Ustad dalam sebuah forum di sekolah. Kalau di tulisan yang lalu nasehat untuk anak-anak, kini nasehat mengalir
untuk saya, dan para orang tua.
Anak-anak yang saat itu hadir di hadapan orang tua
bukanlah anak-anak kecil yang lucu dan menggemaskan lagi. Mungkin bagi sebagian
besar orang tua, termasuk saya anak-anak usia 15 tahunan itu ‘lagi bikin geregeten’.
Ahh… jujur saya sering mengalami rasa geregetan itu. Menghadapi anak usia
remaja di zaman yang sangat berbeda dengan zaman saat saya remaja dulu. Harus
benar-benar punya stok sabar tingkat bidadari dan berusaha jadi teman terbaik
buat mereka.
Mereka
telah berubah baik fisik maupun tingkah lakunya. Mereka telah bermetamorfosa
menjadi kupu-kupu muda yang siap terbang mencoba ini dan itu. Celakanya orang
tua termasuk saya, sering berekspektasi sangat tinggi pada mereka. Ingin mereka
sesempurna seperti yang kita harapkan. Padahal jika berkaca, orang tua juga
bukan sosok sempurna di mata anak-anak.
Anak-anak itu ibarat benda, katakanlah sebuah guci yang
sangat indah. Sayang ada retak sedikit yang mengurangi kesempurnaan
keindahannya. Jika kita fokcus memandang pada bagian yang retak, maka
kita akan merasa bahwa guci itu telah cacat. Kita tidak melihat keindahan guci
di sisi yang lainnya. Mungkin kita akan kesal dan kecewa lalu menyimpan di
gudang, tak peduli, atau bahkan membuang guci itu.
Cobalah kita memutar arah pandangan kita. Melihat guci
itu dari sisi yang lain, sisi yang tidak retak. Melihat keseluruhan bentuk dan
warna guci itu. Maka kita akan melihat betapa indahnya guci itu. Kita akan bersyukur memilikinya. Kita mungkin
akan berusaha menyamarkan retaknya dengan lem, menambal, mengecat, atau sekedar
memutar posisi guci itu.
Yang paling menakutkan, jika kita menutup mata. Tak peduli.
Maka yang akan kita lihat adalah kegelapan. Karena kita tak bisa menemukan
apa-apa.
![]() |
Gambar dari sini |
No comments:
Post a Comment