Setelah
menikah, dan mempunyai anak, komunitas saya hanya lingkungan sekitar. Ibu-ibu
tetanggga kiri kanan yang tergabung dalam acara PKK. Itu pun saya tidak begitu
aktif, karena saya juga bekerja di luar rumah. Saya hanya hadir satu bulan
sekali saat arisan.
Dan terus terang saja, saya tidak
begitu menikmati berada di dalam komunitas ibu-ibu itu. Alasannya sepele,
karena saya tidak begitu suka ngomong ngalor ngidul. Sedangkan ibu-ibu tetangga
saya bisa betah ngobrol membahas hal-hal yang menurut saya nggak penting dari A
sampai Z. Dan seringkali pada akhirnya, ujung-ujungnya ngerumpi, ghibah
ngegosip.
Bertahun-tahun saya memimpikan
sebuah komunitas yang sesuai. Saya merasa bosan dengan hari-hari yang saya
lalui. Saya merasa terputus dari dunia saya dulu, termasuk dengan teman-teman
dari beberapa organisasi yang saya ikuti, membuat saya harus banyak berdamai
dengan mimpi-mimpi saya. Salah satunya
adalah mimpi bisa menerbitkan tulisan di media yang bisa dibaca dan
menginspirasi lebih banyak orang.
Sepanjang waktu itu media saya hanya buku harian. Buku harian itulah yang merekam jejak
hari-hari saya. Merekam apa saja yang
saya pikirkan dan resahkan.
Akhirnya saat demam social media
melanda, saya pun tak mau ketinggalan. Dari sanalah dunia saya terbuka lebih
lebar. Saya bisa mendapat informasi berbagai komunitas yang bisa saya ikuti.
Tentu saja saya melirik komunitas yang sesuai minat saya, yaitu seputar dunia
menulis dan dunia anak-anak.
Ada satu komunitas yang begitu lama
saya impikan untuk bisa menjadi bagiannya. Komunitas penulis yang
mendedikasikan menulis sebagai sarana dakwah bil qolam. Komunitas yang kemudian
melahirkan penulis-penulis yang karya dan sosoknya diapresiasi dan mengispirasi
banyak orang. Tapi bagaimana cara saya
bergabung? Di kota tempat tinggal saya sekarang tidak ada.
Rupanya Allah menjawab mimpi saya.
Dari FB, saya membaca woro-woro launching Forum Lingkar Pena Sidoarjo,
sekaligus perekrutan anggota. Tanpa banyak berpikir saya segera mendaftar
mengikuti acara tersebut sekaligus mengisi formulir pendaftaran. Ternyata
syarat lamaran harus menyertakan karya
berupa tulisan fiksi dan nonfiksi. Setelah lolos untuk tahap ini, masih ada
seleksi wawancara segala, Duuhh… berasa interview calon pegawai saja.
Akhirnya saya bisa melewati semua
tahapnya dan resmi bergabung di FLP. Senangnya… bisa bergabung di komunitas
impian. Dan saya adalah anggota angkatan pertama berstatus ibu di tengah
teman-teman pelajar dan mahasiswa ,ehem. Saat itu saya dan mbak Tatit Ujiani ibu-ibu
yang merasa jadi keren banget belajar menulis bareng teman-teman yang masih
muda dan segar. Serasa mendapat energy baru berkumpul bersama mereka.
Serasa
menemukan oase baru. Kembali berorganisasi setelah bertahun-tahun terbenam
dalam keriuhan sebagai IRT. Mensukseskan berbagai event yang diadakan FLP, berkesempatan bertemu dengan penulis-penulis
kenamaan seperti Sinta Yudisia, Kang Abik, MD Aminudin, Shabrina WS, sungguh sebuah impian yang menyata. Apalagi
saat kemudian dibuka rekruitmen anggota angkatan ke 2 dan seterusnya saya juga
didapuk untuk berbagi ilmu. Duhh… meski
sempat demam panggung karena lama tak pernah berbicara di depan banyak orang,
juga merasa masih sangat cetek ilmunya. Tapi semua itu terlewati dan menjadi
moment kebangkitan hehe
FLP hanya salah satu komunitas dari sederet komunitas yang saya ikuti.
Meskipun hanya beberapa saja yang saya aktif dan mengikuti kegiatannya baik
offli ne maupun online. Selain FLP, saya nyaman berada di tengah komunitas para pecinta dan penulis bacaan anak. Meskipun untuk komunitas bacaan anak ini saya hanya bisa gigit jari kalau ada event offline. Karena seringkali diadakan di luar kota. Komunitas ideal
menurut saya, haruslah:
- Inspiratif, memberikan banyak insprasi dan manfaat baik untuk anggotanya maupun masyarakat di sekitarnya. Memiliki visi dan misi yang jelas.
- Dinamis, komunitas yang ideal haruslah dinamis. Tidak statis, diam tak bergerak tidak berkembang mengikuti arus zaman. Juga harus fleksibel terhadap segala kondisi tapi tetap berjalan sesuai aturan main yang telah disepakati bersama.
- Edukatif, komunitas yang ideal harus menjadi tempat dan memfasilitasi anggotanya untuk terus belajar dan berkembang. Juga semestinya memberikan wadah untuk masyarakat di sekitar untuk belajar meskipun bukan bagian anggota komunitas tersebut.
- Administratif, Komunitas yang ideal harus mempunyai pengurus yang jelas, sanggup dan ikhlas mengelola. Aturan dan tata tertib anggota juga harus diatur dengan baik dan tegas. Sehingga baik pengurus maupun anggotanya bisa merasa nyaman, tidak seenaknya sendiri.
- Langgeng, seyogyanya komunitas bisa terus berjalan berkesinambungan. Ada estafet kepengurusan sehingga sebuah komunitas bisa terus ada dan berjalan tidak mati di tengah jalan. Sayang sekali kan, jika komunitas yang sudah besar dan memberikan manfaat harus bubar hanya karena salah urus atau kericuhan antar anggotanya.
Semoga apapun komunitas
yang kita ikuti bisa membuahkan kebaikan bagi diri kita dan orang-orang di
sekitar kita.

Mantap Mbak. Status sebagai IRT tak boleh jadi penghalang untuk terus maju mengembangkan potensi yang ada. Semangat nulis!!
ReplyDeleteYup! banyak peran yang bisa dilakukan oleh IRT. terimakasih u semangatnya :)
DeleteMaju terus mbak, Ibu Rumah tangga juga bisa berkarya
ReplyDeleteTerimakasih untuk semangatnya :)
Delete