Alhamdulillah... cerita ini dimuat di Konan (Koran Anank) Radar Bojonegoro Minggu 28 Juli 2013. Cerita ini ditulis Aisya awal tahun 2012, diikutkan lomba Tupperware Childrens Fund "Sayangilah Bumi" tapi masih belum rezeki. Yang penting tetap semangat dan sudah berani ngirim:) Daripada mubazir, akhirnya di kirim ke Radar Bojonegoro, alamat email : kenalyan@yahoo.co.id
![]() |
sayang ilustrasinya, Rani tidak pakai kerudung seperti di cerita Aisya :) |
Hadiah Penyelamat
Bumi
Aisya Putri
Hari ini rumah Rani
ramai sekali. Wajar saja, hari itu Tante Erna, Dek Rahma, dan Om Edo
berkunjung ke rumah Rani. Rani dan Dek Rahma asyik bermain-main. Rani
adalah anak semata wayang. Setiap hari, Rani pasti kesepian dan tidak
mempunyai teman. Hari ini, Papa keluar kota karena ada tugas dari
kantornya. Papa Rani memang orang yang sangat sibuk. Karena itu Papa
jarang menemani Rani.
“Tante,
tolong buatkan es jeruk ya,” kata Rani saat berada di dapur.
“Hush…Tante
kan tamu, seharusnya kamu yang membuatkan es untuk Tante.” Mama
menasehati Rani. Rani cemberut.
“Nggak
apa-apa kok Kak,” Tante Erna membela Rani. Rani pun kembali
tersenyum.
“Nanti
minta tolong antarkan ke kamar Rani ya Tante,” kata Rani sambil
bergegas pergi ke kamarnya yang berada dilantai dua.
Sesampainya
dikamar,
Rani langsung menyalakan AC (pendingin ruangan). Rani mengajak Dek
Rahma masuk ke kamarnya. Sambil menunggu Tante Erna, Rani dan Dek
Rahma bermain-main.
“Tok…tok…tok…”seseorang
mengetuk pintu kamar Rani.
“Masuk!”
kata Rani mempersilahkan. Ternyata Tante Erna. Tante Erna membawa
nampan berisi es jeruk.
“Kenapa
kamu menyalakan AC Rani?” tanya Tante Erna sambil memandangi AC
yang menyala.
“Hari
ini kan panas sekali. Kalau tidak menyalakan AC, badan pasti banyak
keringatnya. Terpaksa aku tak mengantarkan kue Mama ke Bu Ijah.
Kulitku yang putih ini bisa menjadi hitam. Uhg…aku tidak rela.”
kata Rani beralasan. Mama Rani seorang penjual kue. Mulai dari kue
basah, kue kering, cake, donat, dan aneka roti.
“Kamu
hanya memikirkan diri kamu sendiri. Lihat, bumi dalam bahaya. Ingat,
menyalakan AC itu sama dengan mendukung ‘Global
Warming’,”nasihat
Tante Erna.
“Global
Warming itu apa sih?” tanya Rani penasaran.
“Besok
saja, saat acara ulang tahunmu Tante akan kasih tahu,” kata Tante
Erna. Rani semakin penasaran. Setelah makan siang bersama, Tante Erna
pun pulang. Karena bosan, Rani memilih untuk tidur.
Sore
harinya,
Rani mandi cepat-cepat. Hari itu, ia memiliki jadwal les Matematika.
Sebenarnya, tempat les bisa dijangkau dengan jalan kaki atau naik
sepeda. Ya, tempat les masih berada di dalam komplek perumahan.
Hanya sekitar 500 meter. Tapi,itu bukan Rani namanya. Rani minta
diantar Om Danang, menggunakan mobil. Om Danang adalah adik bungsu
Mama.
Rani
memang anak yang boros dan hanya mau yang cepat dan nyaman. Di
perjalanan, Rani bertemu Deni, teman lesnya.
“Den,
kenapa kamu jalan kaki? Biasanya kamu naik sepeda. Dimana sepedamu?
Bareng yuk!”ajak Rani sambil membuka kaca mobilnya. Deni
geleng-geleng kepala.
“Ya
Allah kan dekat, entar juga sampek. Ora usah. Lagian, bumi iku lagi
terancam. Ati-ati ana global warming.” nasihat Deni dengan logat
jawanya. Mobil Rani pun meninggalkan Deni.
Setelah sampai
ditempat les, Rani langsung masuk ruang kelas dan menaruh tasnya. Ia
lalu menghampiri Bu Desti. Pelajaran pun dimulai dengan lancar. Tak
beberapa lama kemudian, pelajaran selesai. Semua murid langsung
berhamburan keluar kelas.
“Rani,
kamu besok ulang tahun kan? Jangan lupa undang aku ya,” kata Hana
ketika Rani keluar dari kelas.
“Iya.
Nanti, akan aku bagikan undangannya. Untukmu sudah ku siapkan.
Pestanya sangat meriah, tunggu saja,” jawab Rani sambil membenahi
kerudungnya.
Karena
terlalu capek, undangan-undangan itu diantar oleh Mama. Rani lelah
dan tertidur di sofa ruang keluarga. Ia tak sabar dengan hari esok.
Ia telah mengundang semua temannya.
Keesokan
harinya,
Rani harus menyiapkan perayaan ulang tahunnya. Hari itu, Papa Rani
tidak hadir, Rani pun harus menyiapkan pestanya hanya ditemani oleh
Mama. Satu persatu teman Rani mulai datang. Setelah semua datang,
pesta pun mulai.
Rani
menunggu Tante Erna yang belum juga
datang. Kata Mama Tante Erna tidak datang. Ia menitipkn hadiah di
kebun belakang. Rani menuju kebun belakang dan langsung melihat
hadiah yang ada di pojok kebun. Ternyata, itu adalah sebuah tanaman.
Tante Erna menggantungkan sepucuk surat di sela-sela rantingnya.
Kini, Rani mengerti apa yang disebut global warming. Pemanasan global
yang mengancam bumi, yang disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan
buruknya selama ini. Ia berjanji akan mengubah kebiasaannya, agar
tidak memperbesar global warming dan menjadi penyelamat bumi. [] Penulis adalah siswa SDIT Nurul Fikri Sidoarjo
selamat ya mbak..
ReplyDeleteciamik pesan dalam isinya :)
*kaosnya warna apa? :D
makasih mbak Binta sudah mampir :) kaosnya warna putih :D
DeleteSelamat ya...
ReplyDeletesenangnya :)
Makasih tante Santi :)
Delete